ISTERI SHOLEHAH (DARI CAT. dAZTAQ)
Sakinah, Mawaddah, Warahmah…… demikian selalu …menjadi doa dan dambaan setiap keluaraga.
Namun tahukah kita yang dimaksud dengan tiga kata yang penuh makna tersebut?
Sakinah adalah hendaknya seorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Sementara mawaddah, berarti seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh (Al Ghazali).
Ada 10 wasiat Rasulullah kepada putrinya Fathimah binti Rasulillah. Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah. Wasiat tsb adalah:
1. Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan, dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman sorga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.
8. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai2 sorga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.
Begitu indah menjadi wanita, dengan kelembutan dan kasihnya dapat merubah dunia
Jadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah, agar negeri menjadi indah, karena dirimu adalah tiang negeri ini……………………… Bagaimana pula dengan anda Bu………..?
…….tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
SHOLAT ANDA CEPAT ATAU LAMBAT
Dalam sebuah riwayat Rosulullah SAW menyampaikan :
Ketika Beliau sedang duduk dalam mesjid, tiba2 datanglah seorang sahabat dan ia (sahabat yang baru datang) langsung SHOLAT. Setelah selesai sholat ia mendekati Rosul dan ingin bersalaman. AKan tetapi Rosul tidak menerima uluran tangan sahabat, melainkan menyuruhnya kembali mengulang sholat. Selesai sholat ia kembali menemui Rosul, tapi tetap terjadi seperti semula, sampai berulang sebanyak tiga kali.
Karena tidak mengerti maka ia bertanya kepada Rosul tentang sholat yang baru saja ia lakukan berulang kali.
Rosulullah SAW bersabda “Bila engkau sholat, maka takbirlah dan kemudian berTUMA’NINAlah, bila engkau ruku’ maka bertuma’ninalah…..”
Semuanya…..
Melihat penjelasan Rosul ne, kira2kira apa ya maksudna
Aku berfikir…..
slama ini yang kupahami dari tuma’nina hanyalah “duduk sesa’at menjelang berdiri ke raka’at berikutnya.
tapi….ternyata itu masih kurang kalau diukur dengan penjelasan Rosul tsb
Sahabat yang dilihat oleh Rosul dalam melaksanakan sholat ternyata tidak bertuma’ninah dalam sholatnya sampai diulang beberapa kali. Dan perlu kita renungkan juga tentunya sholat sahabat itu kalaupun cepat dan tergsa2, tentunya tidak sama dengan kecepatan dan ketergesa-gesaan kita hari ini….namanya juga sahabat.
Kalau begitu, sebuah pertanyaan muncul dari mulutku : SUDAHKAN SHOLATKU BERTUMA’NINAH SEBAGAIMANA YANG DIPERINTAHKAN NABI ?
Kadang sholatku terlalu cepat…
membaca al-FATIHAH saja sering tamat dalam satu kali tarikan nafas
Begitupun membaca ayat demi ayat….itupun sering memakai ayat yang sama
Bacaan ruku’ ku habis diperjalanan, sehingga baru saja sampai sempurna rukuk itu aku sudah berdiri lagi (i’tidal). Sama juga halnya dengan sujud, duduk antara dua suju dan tasyahud.
Ya …ALLAH
Sholat apa yang kulakukan itu…..
Nabi mengajarkan agar aku lambat dan pelan dalam melaksanakan sholat. Pelan gerakan dan juga pelan bacaan. Harus ada jarak antara satu gerakkan dengan gerakan lain, minimal satu kali tarikan nafas biar hati jadi tentram. Begitu juga denga bacaan demi bacaan, tidak boleh tergesa2.
Trus bagaimana dengan anda flen….
Tamatkah al-Fatihah anda dalam satu kali tarikan nafas….
kalau ia….robahlah….
santailah….istirahatlah….pelan2lah….BERTUMAKNINALAH
Jangan lagi sholat dikejar-kejar waktu dan pekerjaan
Seolah2 kita akan mengalami kerugian teramat besar bila sholat bertumakninah
Kalau baca al-Fatihah….bacalah dengan santai…karena ia akan langsung dijawab oleh ALLAH SWT
Bila baca ayat….bacalah dengan baik dan benar
Kalau rukuk…..sempurnakanlah datarnya punggung….barulah dibaca bacaan rukuk itu dengan pelan
Kalau i’tidal juga begitu….sempurnakan berdiri baru dibaca bacaan i’tidal
Demikian juga dengan sujud….duduk antara dua sujud…..tasyahud…
maka sempurnakanlah
Jangan TERGESA2…TAPI PELANLAH (TUMA’NINAH) DAN NIKMATILAH SHOLATMU SEBAGAI SHOLAT YANG TERAKHIR
QUR’AN dan koran
Qa_la Rosulullah SAW :”Nawwiru_ buyu_takum biqira_atil Qur’an” Terangilah rumahmu dengan bacaan al-Qur’an.
QUR’AN dan koran adalah dua benda yang kita perlakukan beda, bahkan jauh berbeda…..(iya kan ?????)
Pagi hari, malam hari, siang hari….sambil menikmati kopi, sarapan pagi, dan makan siang bahkan makan malampun tak ketinggalan sering ditemani dengan koran yang menceritakan kisah para celeb, poliTIiKUS, dan cerita seputar kehidupan serta seputar Indonesia/dunia. Tak mau ketinggalan sidang Paripurna DPR mengenai laporan Pansus ttg bank Century. Bene……r ndak mo ketinggalan berita, kan malu klu nanti temen2 cerita dan berdebat….sedangkan kita hanya diam tak mengerti. Pertanyaannya adalah SALAHKAH ……? BILA INI DILAKUKAN
Ndak, ndak salah koq, karena memang qita butuh berita agar pengetahuan luas kita dapatkan. Orang Islam jga dituntut spaya pintar dan banyak pengetahuan…..ya gak, ya gak…
TAPI……
Disinilah kadang kita keliru dalam memaknai pentingnya baca koran, karena satu benda pusaka lagi tak pernah kita perlakukan sbagaimana yang kita perbuat terhadap koran. Rosulullah SAW mengatakan “Taraktu fi_kum amraini, in tamasaktum bihima_ lan tadhillu_ abada, kitaballah wa sunnaturrasu_l” Telah aku wariskan untuk kamu dua hal, dimana kalu kamu berpegang kepada keduanya, maka kamu tidak akan sesat selamanya, itulah al-Qur’an dan Sunnah Rosul”.
Ya….ya….ya, QUR’AN sebagai kitab suci, sudahkah kita perlakukan sama (bahkan semestinya lebih) dengan kebutuhan menikmati koran, Pagi, siang, sore sampai malam hari, tak ketinggalan menyantap koran. BUT QUR’AN kapan kita baca ?????????????
Sudahkah pagi hari selesai sholat subuh kita baca al-Qur’an …????????
Sudahkah siang selesai sholat zuhur kita baca al-Qur’an….???????????
Sudahkah sore selesai sholat ‘ashr kita baca QUR’An……??????????????????????????
Sudahkah malam selesai maghrib dan ‘Isya’ kita baca al-Qur’an………….???????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Jawabannya hanya kita yang tahu kan….????
Rumah semestinya kita sinari dengan membaca QUR’AN……bukan hanya dengan musik, musik, dan musik
Kalaulah seandainya belum kita lakukan,……….lalu kapan mo’ kita mulai….?????????????
Kalu ketinggalan berita koran……kita rasa malu sama kawan2
Tapi kalau tidak baca QUR’AN,,,,,,,tidakkah malu kepada ALLAH……
NASTAGHFIRULLAH…….SEMOGA ALLAH MENGAMPUNI KEKELIRUAN KITA INI….AMIIN
TAJASSUS (Antara Boleh dan Tidak)
Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu berprasangka, karena prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu bertajassus (mencari kesalahan orang), jangan berghibah (bergunjing)….”
Saudaraku semua, (termasuk juga untuk aqu yang menulis ne)
kita mulai saja merenung tentang kata2 “TAJASSUS” ya
Dalam kehidupan kita ndak boleh lo melakukan satu perbuatan buruk seumpama tajassus.
Ketika melihat sesuatu yang terjadi pada orang lain (semuanyalah, penampilannya, tutur katanya, apalagi ibadahnya…) jangan kita berupaya memberikan penilain, bahkan berusaha untuk mencari dimana salahnya.
Dia bicara menyakitkan, penampilannya kurang bagus, bahkan sholatnya beda dari pemahaman kita (seumpama dia takbir sambil mangagnkat tangan, tapi tangan yang diangkat itu tidak sama batas tingginya dengan kita….)
Atau baarangkail jilbabnya tidak sama dengan besarnya jilbab kita
Atau ssesuatu yang beda dengan pemahaman kitalah
Ndak usah car kesalahan…
melainkan ketika melihat sesuatu yang beda dari pemahaman dan praktek kita tu
kita sendiri mencoba melakukan TAJASSUS terhadap diri kita
Kalau dia bicaranya buruk…..lalu bagaimana dengan bicara kita
sudahkah menyenangkan dalam kebenaran
Kalau perilakunya tidak baik…..sudahkah perilaku kita sebaliknya
atau bahkan lebih tidak baik lagi
Kalau sholatnya tidak bagus…….sudahkah sholat kita bagus
kalau jilbabnya kurang besar….apakah jilbab kita sudah” menyembunyikan” ‘aurat
(Maaf aku pakai kata-kata “SEMBUNYI” karena kalau hanya menutup ‘aurat
kayaknya sudak banyak kita yang dah menutup. Keluar rumah, kesekolah, kerja, jalan-jalan…
kemana saja….kita tutup ‘aurat.
TAPI……. sudah tersebunyikah ???????????
Jawab aja ndiri ya…..
Kembali pada mencari kesalahan…….maka carilah kesalahan sendiri
Bukan kesalahan orang lain
Apalagi kesalahan kita sendiri dalam menyikapi perintah ALLAH
Terutama menyangkut ibadah yang MAHDHAH (wajib)
Solat, puasa, zakat, dll
Maukan menjadi orang yang berusaha mencari dan mengukur diri.
Harus lho….ntar keburu dijemput.
MAka pikirkan satu hal …
KUBURAN YANG KITA GALI HARI NE UNTUK ORANG LAIN,
TIDAK AKAN PERNAH BERLARI DAN MENJAUH MENINGGALKAN KITA.
MELAINKAN…..
SETIAP DETIK KUBURAN ITU AKAN MENDEKATI KITA
HINGGA SATU SA’AT NANTI….
KUBURAN YANG KITA GALI UNTUK ORANG LAIN, JUGA AKAN DIGALI UNTUK KITA, YA…UNTUK KITA
Wasallam…..Yoz, Yoz, Yoz……
Kematian
Apa seh yang pasti bagi manusia selain dari mati “bahasanya kasar sekali lebih baik pakai “meninggal”".
Kerja yang sudah mati-matian setiap hari, belum tentu dapat apa yang dinginkan.
Artinya belumlah suatu yang pasti kita dapatkan apapun yang kita inginkan. Akan tetapi meninggal “mati” mau tidak mau, sadar tidak sadar, rela tidak rela, dimanapun jua, siapapun kita, pasti akan menjumpai “KEMATIAN”
Sekarang disisa-sisa hidup yang masih ada ne, apakah yang mesti kita coba fikirkan ?????????????
Berfikir tentang masa depan…. monggo…
berfikir tentang pekerjaan ….. yo silahken…
berfikir tentang siapa yang akan jadi pasangan hidup bagi yang belum punya…….ndak papa…
berfikir tentang bagaimana nasib anak-anak kita bila mereka sudah dewasa…. ya wajar seh…
berfikir tentang apa saja “asalkan jangan yang joroklah” …..please……
Tapi……
Janganlah semua fikiran itu membuat kita lalai dari mengingat MATI,
karena memang itu yang diperintahkan agama kita.
Bahkan memikirkan tentangnya haruslah lebih sering agar hati menjadi lembut
dan mau tunduk dan patuh kepada perintah ALLAH dan RasulNYA.
BAGAIMANA MENURUT ANDA …….?????????
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Maret 2010 (3)
- Februari 2010 (1)
- Januari 2010 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS